Hari ini kau datang di hadapanku. Tepat seperti apa yang kuramalkan. Kau
seakan tak pernah bisa jauh dariku. Meski sebelumnya kau telah berkata
berulang-ulang kau takan bisa datang ketempatku karena berbagai alasan.
Lalu mengapa saat ini kau ada di depanku? Apakah karena aku memaksamu ataukah
memang takdir yang membawamu kesini?
Kali ini kau tak bisa berlama-lama di sini
(kantorku). Kau hanya menitipkan surat lamaran kerjamu saja dan selanjutnya kau
akan ke rumah budemu karna ada keperluan yang lebih penting. Akupun tak
bisa menahanmu karena aku juga sedang bekerja. Kau tertawa geli saat kutanyakan
bagaimana kabarmu karena baru saja seminggu yang lalu kita bertemu
dirumahmu. Lalu aku tersenyum dan sedikit salah tingkah. Mungkin karena
kau tak tahu, betapa satu hari bagiku seperti ribuan musim berlalu saat kita
jauh. Dan mungkin kau berfikir aku alay. Ya. Maybe yes. Dan perlu kau ketahui,
kaulah penyebabnya.
Terkadang aku merasa kasihan melihatmu seperti ini, melakukan apa-apa
sendiri. Seandainya saja kau tak pernah menolak bantuanku mungkin kau tak perlu
mengahadapi semuanya sendiri. Ya aku tahu, kau adalah wanita yang mandiri. Dan selama
kau bisa melakukan semuanya sendiri, kau tak akan meminta bantuan kepada
siapapun. Tak terkecuali bantuanku. Kau hanya tak ingin membebani orang lain
dengan masalah hidupmu, katamu. Kau memang keras kepala. Tapi mungkin itu yang
membuatku semakin mengagumimu. Meski terkadang kau sangat menyebalkan.
Kau duduk di lobby kantor sementara aku pergi ke kantin mengambilkanmu
minum. Raut mukamu terlihat lelah dan matamu sedikit layu. Kau bercerita banyak
tentang perjalananmu tadi saat otw ke surabaya.






