Minggu, 09 November 2014

Suatu Sore di Rumahmu



Sore itu tak begitu terang juga tak begitu menyengat seperti biasanya. Antara ingin dan takut aku ragu-ragu mengambil kunci sepedaku. Bermain ke rumahmu. Ya. aku tak tahu harus bagaimana. Sementara sepeda motor yang akan aku pakai untuk ke rumahmu mau dipinjam kakakku. Jadi tanpa berfikir panjang dan sedikit menyesal aku tak bisa meminjamkannya kepada kakakku. Ya, karna aku memutuskan akan datang ke rumahmu sore itu.

Tak butuh waktu yang lama aku sudah berada di depan rumahmu. Dengan langkah gemetar dan berbagai macam perasaan takut bercampur jadi satu di atas kepalaku. Pintu rumahmu sudah terbuka dan aku bisa mendengar kau sedang bernyanyi mengikuti suara musik yang sedang kau putar di dalam kamarmu. Lagu yang juga sangat kusukai. Kuketuk pintu rumahmu beberapa kali meski sudah terbuka. Kutarik nafas dalam-dalam. Dengan sedikit tersedak lalu kucapkankan salam “Assalamualaikum..”. tidak ada jawaban. Mungkin suaraku kurang sedikit keras lagi. “Assalamualaikum..”.  kuulangi salamku. 

“Waalaikumsalam..” terdengar jawaban dari dalam rumah. Suara dari ibumu. Aku masih bisa mengenalinya dengan jelas. Kemudian ibumu menyuruhku masuk dan duduk di kursi ruang tamu rumahmu. Dengan sedikit gugup aku masuk lalu duduk dikursi ruang tamu rumahmu. Aku sangat senang saat itu karna ibumu ikut duduk menemaniku di ruang tamu rumahmu. Sembari menunggumu keluar dari kamar,katanya kamu baru selesai mandi. Aku sedikit salah tingkah harus bagaimana memulai percakapan kami karena sebelumnya aku tak pernah berbicara empat mata dengan ibumu. Dengan sedikit terbata-bata kutanyakan kabar beliau dan juga kabar ayahmu. Lalu ibumu menjawab dengan ramah. "Hey.. bukankah ini mudah?"  –dalam hatiku-.

Obrolan kita berlanjut dan ibumu lebih banyak bercerita dari pada aku. Karena aku tak ingin terlihat gugup didepannya aku lebih banyak menjadi pendengar setianya. Sesekali aku menimpalinya jika dia meminta pendapatku, selebihnya aku hanya mengangguk dan bilang “nggeh bu”.
  
Dan ibumu tak tahu saat dia menyebut namaku tiba-tiba saja aku sedikit salah tingkah, tapi aku tahu. Aku sangat senang bahwa ternyata ibumu tahu namaku meski aku jarang sekali kerumahmu. Dan aku tahu, itu berarti mungkin kau sering menceritakan tentang aku kepadanya meski terkadang aku merasa kau terlihat cuek denganku.

Disepanjang obrolan kami hanya namamu yang menjadi topik ceritanya. Katanya akhir-akhir ini kau sedang dirundung berbagai macam masalah, terutama tentang karier mu di beberapa perusahaan yang telah kau tinggalkan. Tentu saja aku sudah tahu karena sebelumnya kau sering menceritakan masalah ini padaku. Katanya juga kau berencana ingin memulai berwira usaha sendiri. Dan sekali lagi, aku juga sudah tahu. Sementara ibumu asik menceritakan keadaanmu saat ini, aku hanya diam dan mendengarkan setiap kalimat dari lidahnya. Dan fikiranku terbang ke entah menuju kemana. Disitu hanya namamu dan sebuah pertanyaan "Bagaimana caranya membantu mu keluar dari masalah ini?". Tentu saja aku akan rela melakukan apa saja demi kamu, yang semua itu tujuannya cuma satu, ingin melihatmu bahagia.

Ditengah perbincangan ku dengan ibumu yang mulai mencair, tiba-tiba saja ayahmu datang dari dalam rumahmu kearah kami. Sontak aku kembali gugup dan salah tingkah lagi. Kusalami beliau sembari ku kembangkan senyum tipis di bibirku. Ayahmu ikut membalas senyumku. Lalu dia ikut duduk bersama kami, di kursi sebelah kiriku.

Kemudian ibumu kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini aku dengan sangat hati-hati berbicara dengan ibumu ketika dia meminta pendapatku. Entahlah, ayahmu hanya diam di sepanjang kebersamaan kami. Hingga tidak lama kemudian ibu dan ayahmu pergi meninggalkan aku ketika kau terlihat keluar dari kamarmu lalu menghampiri aku.

Seperti biasanya, kau terlihat sangat menarik di setiap waktu. Hanya saja sore itu kau terlihat sedikit berbeda, terlihat lebih natural tanpa goresan makeup. Dan aku suka.

Hey, andai saja mengungkapkan cinta semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin aku tak perlu bersusah payah memendam perasaan ini lama-lama. Mungkin juga aku tak perlu merasakan galau yang berkepanjangan. Entah sampai kapan aku akan menjadi seorang pecundang di depanmu. Karena sebelumnya tak pernah seperti ini, ketika aku berhasil menyatakan perasaanku kepada seseorang yang pernah dekat denganku. Atau,, Hanya saja kamu sedikit berbeda?. Karna hanya kamu yang mampu membuatku terdiam dan tak berdaya saat bersamamu. Ya. Hanya kamu. Tapi ketahuilah setiap aku tak melakukan semua itu, I Almost do



0 komentar:

Posting Komentar

Hudie Muhammad. Diberdayakan oleh Blogger.